13.6.14

Menantu Idaman Surga

Namaku Husna... aku menikah sudah 10 tahun dengan seorang lelaki yang tidak lain adalah teman satu sekolahku waktu di SMA. Kami sama-sama berprofesi sebagai guru SD, hanya saja disekolah yang berbeda. Sejak aku menjadi istrinya, aku dan dia memang masih tinggal dengan orang tuanya, konon... ibunya sudah janda dan tidak berpenghasilan sendiri. Ayah mertuaku hanya meninggalkan gaji pensiun yang tidak seberapa. Rasa iba ku hadir tatkala aku mendengar dari cerita suamiku jika ibu mertuaku sering sakit-sakitan. karena itulah aku dan suamiku memutuskan untuk tidak tinggal terpisah dengan ibu mertua. 

Banyak ku dengar dari beberapa orang teman jika tinggal dengan ibu mertua pasti lama-lama akan ada yang tidak enak. Maksud mereka, pasti aka ada perselisihan antara menantu dengan mertua. Itu sudah pastilah, yang namanya manusia mana mungkin selalu sependapat dan seide. Bahkan bayi yang lahir sama persis saja memiliki karakter dan watak yang berbeda. Apalagi menantu dengan mertua. 

"Kamu lihat saja nanti Husna, paling-palingan setahun atau dua tahun ibu mertuamu akan keliatan aslinya" Kata salah seorang temanku.

"Iya Na, yang namanya mertua itu jahatnya ibarat zombi, pelan-pelan tapi membunuh." Sahut temanku yang lainnya.

Aku hanya bisa menarik nafas panjang, dan terus berpikiran tenang. Aku tak bisa menyamai apa yang dialami oleh teman-temanku dengan jalan hidupku. Bukankah esetiap orang punya kisah yang berbeda-beda? Lantas, mengapa harus mengkhawatirkan apa yang belum pasti terjadi. Allah kan Maha Adil, ibarat kata pepatah, apa yang engkau tanam itu juga yang akan engkau tuai. Selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi menantu yang terbaik untuk ibu mertuaku. Aku sangat menyayanginya apalagi sejak aku sudah menjadi yatim piatu. Aku menganggap ibu mertuaku tak hanya sekedar mertua, tetapi juga seperti ibu kandung sendiri, yang wajib aku hormati, hargai serta sayangi.

Namun ternyata seiring berjalannya waktu, apa yang dikatakan oleh teman-temanku seolah menjadi nyata. Suatu hari saat aku akan pulang dari sekolah suamiku menelponku menyuruhku untuk cepat pulang, katanya ibu marah-marah gak jelas. Akupun langsung pulang dengan tergesa-gesa. Sesampainya dirumah, ternyata benar.. ibu mertuaku tengah mengomel tak karuan, sebabnya karena anakku Kesya membuat rumah berantakan. Maklum saja namanya juga anak-anak, begitu pulang sekolah ya langsung main. 

Aku masih membenarkan tindakan mertuaku, karna memang Kesya salah dan pantas dimarahi. Tapi ada peristiwa yang lain terjadi setelah itu yang membuat aku sangat sedih hingga meneteskan airmataku. Ibu mertuaku menyuruh kami untuk pindah cari rumah lain. Awalnya aku berat hati untuk meninggalkannya, namun harus bagaimana lagi...ini sudah menjadi keinginannya. 

singkat certita, akhirnya aku dan suamiku pun pindah. Namun selang beberapa bulan kemudian ibu mertuaku menelponku dan menanyakan kabarku dan keluargaku. Aku sangat senang sekali, ternyata ibu mertuaku masih perduli padaku dan kelurgaku. 

"Kesya sudah kelas berapa sekarang" tanya ibu mertuaku ditelpon.

"Kesya sudah kelas 3 Oma, sebentar lagi naik kelas 4" jawabku dengan ramah.

sejak obrolan ditelpon itu mertuaku jadi sering menelpon kami. Mungkin ini yang dikatakan pepatah, jauh wangi harus, dekat bau busuk. Barangkali mertuaku sudah mulai merasakan kesepiannya. Jika dulu dia sering marah-marah dengan sikap Kesya yang suka buat kotor rumah, kini tak ada siapapun yang mau diomelin. Aku bisa merasakan kesepiannya karna itu aku berniat mengajak suamiku untuk pulang kerumah lama. Namun belum sempat aku menyampaikan niatku itu kepada suamiku, suamiku sudah lebih dulu mengabariku jika ibunya sedang sakit keras.

Sesampainya kami disana, ternyata ibu mertuaku sedang terbaring lemah. Saudara-saudara suamiku juga sudah banyak yang datang. 

"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit?" Tanya suamiku pada kakaknya yang paling tua.

"Kami sudah bawa Bram, tapi biaya untuk mengoprasi ibu sangat mahal. 30 Juta. Kami tidak punya uang sebanyak itu".Jelas mereka pada kami.

Ya Allah... sungguh pilu hatiku melihat mertuaku yang terbaring lemah diatas tempat tidur ini. Dia yang biasanya banyak kata, bawel seperti yang sering dikatakan oleh anakku, kini terbaring lemah tanpa daya. Ya Allah... aku ingin menangis dan memeluknya...

Malamnya, aku menghampiri suamiku yang sedang duduk didepan rumah. Aku mengerti betul bagaimana perasaannya. Aku sudah pernah merasakan kehilangan orang tua yang sangat  dicintai.

"Mas,,, sudah makan ?" Tanyaku.

Suamiku hanya menggeleng. 

"Mas... aku punya cara bagaimana kita bisa membawa ibu ke rumah sakit untuk dioprasi. " Jelasku.

"Maksud ummi ?" Tanyanya.

"Mas,izinkan aku menjual mas kawinku ya. Nanti kalau ada rezeki lagi, kita beli lagi." Aku membuka kalung mas mahar pernikahan dari Mas Bram, suamiku. "Memang tidak sampai 30 juta, nanti sisa yang kurang aku ambil ditabungan Kesya. Insya Allah...cukup untuk pengobatan ibu".Jelasku pada suamiku.

Suamiku terdiam. 

"jangan ummi, itu satu-satunya barang berharga yang bisa abi kasih untuk ummi. Mungkin seumur hidup abi, hanya itu yang bisa abi kasih untuk ummi. " Suamiku menolaknya.

"Kata siapa ? Kata siapa abi cuma bisa ngasih sesuatu yang berharga yaitu kalung emas ini ? Abi udah kasih ummi sesuatu yang lebih berharga dari ini, abi selalu mengajarkan ummi agama..itu lebih dari kalung ini abi. Percaya sama ummi, ummi ikhlas.. ummi akan sangat menyesal kalau terjadi apa-apa sama ibu, sementara ummi bisa brikhtiar dengan apa yang ummi punya tapi tidak ummi lakukan abi.. "

Aku menangis, suamiku memelukku dan mengusap kepalaku. 

"Ummi gak dendam kan dengan sikap ibu selama ini kepada ummi dan Kesya.?" Tanya suamiku. 

"Demi Allah abi, tidak pernah sedikitpun terbesik dihati ummi untuk membenci ibu. Biar bagaimanapun sikap ibu selama ini, ummi cukup bisa mengerti abi." Jawabku.

Akhinya akupun menjual semua perhiasanku, alhamdulillah.... uangnya cukup. setelah dibantu oleh saudara-saudara yang lainnya. Ibu mertuaku akhirnya dioprasi juga. Pengorbaanku tak sia-sia, Allah menjawab semua doa-doa kami. Ibu mertuaku sembuh dan bisa kembali tertawa lagi. Sungguh, aku sangat mencintaimu ibu mertuaku,,,meskipun mungkin engkau tidak akan pernah tahu.


10.5.14

Aku Memilih Setia


Hujaan turun begitu deras.Aku masih duduk ditepi jendela kamarku menatap orang-orang yang lalu lalang dijalan. Ada yang berjalan kaki, ada juga yang menggunakan kendaraan. Toko-toko juga sepi dari pengunjung. Jalanan tergenang air dan bunga-bunga terlihat bahagia dengan cuaca yang dingin ini. Namun tidak dengan diriku. Tidak, sebenarnya aku tak tahu aku harus bahagia atau tidak. Satu bulan lagi aku akan menikah dengan seorang pria yang baru kukenal. Kami bertemu di sebuah toko buku saat aku ingin membeli sebuah Novel terbaru yang ternyata juga adalah novel yang sedang dicarinya. Lucu, karena kami sempat bertengkar berebut Novel layaknya anak kecil yang tengah berebut permen. Ya, memang seharusnya tak seperti itu.

Karena tak ada yang mengalah, akhirnya aku menghampiri pemilik toko dan menanyakan apakah masih ada stok lain dari novel itu.

"Maaf mba, untuk Novel yang ini tinggal satu." Jelas pemilik toko.

Lelaki yang berebut buku denganku bersikeras dengan apa kemauannya berdiri disampingku dan meletakkan novel itu didepan meja kasir. Dia mengeluarkan selembar uang seratus ribu Rupiah. Setelah mengambil kembalian dia pun berlalu. Namun aneh, dia tak membawa novel yang baru dibelinya. Aku heran, pemilik toko juga heran. Aku mengambil buku itu dan mengejarnya keluar.

"Eh mas,,,tunggu." Aku sedikit berteriak.

Laki-laki itu tak mendengarnya. Ia terus berjalan menuju sebuah mobil yang diparkir didepan toko. Aku terus memanggilnya. Celaka dia sudah masuk ke dalam mobil. Aku berlari dan menghadang mobilnya. Mobil mendadak direm. Aku menghampirinya dan dia membuka jendela mobilnya.

"Mas, bukunya ketinggalan." Aku menunjukkan buku itu.

Laki-laki itu membuka kacamatanya. Jujur saat itu aku menerka nerka tentang pekerjaannya. Lelaki itu berpenampilan sangat elegan dengan kemeja putih,dasi abu-abu dan celana kain hitam pria ini terlihat sangat rapi. Barangkali dia bekerja dikantor, atau dia seorang pengusaha hebat. Ah entahlah, siapapun dia aku hanya ingin mengembalikan bukunya kala itu.

"Kamu tadi juga mau buku itu kan ? "Tanyanya padaku sembari melempar sedikit senyuman.

Aku masih terheran heran. Bukankah tadi dia juga begitu ngototnya ingin memiliki novel ini. Aku membatin.

" Iya, saya memang tadi juga mencari novel ini. Tapikan,mas yang duluan. Sekarang kok novelnya ditinggal. Dengar ya mas, mas mungkin memang punya segalanya, tapi mas gak boleh memperlakukan novel ini dengan sesuka hati mas. Sesudah mas membelinya, mendapatkannya lantas mas tinggalkan begitu saja. Jahat sekali mas. Kalau mas memang tak berniat untuk memilikinya, baiknya..mas jangan membelinya. Masih ada orang lain yang masih mau dan mampu untuk membelinya mas." Aku ngomel-ngomel.

Laki-laki itu tertawa lepas sesaat. Aku semakin kesal dibuatnya. Apa sih yang diinginkan oleh lelaki ini. Saat itu yang ada dipikiranku, pasti ini orang playboy, kalau bukan pastinya seorang bajingan kelas hiu, atau bisa jadi mafia wanita dan penjahat kelamin.

"Dengar ya mba,apakah kita harus memiliki sesuatu padahal kita tahu ada yang lebih bahagia jika kita memberikannya kepadanya. Terkadang apa yang kita mau mba, gak selamanya harus kita dapatkan. Di hidup ini semua ada tingkatannya. Begitu juga dengan keinginan. Ada yang ingin, ingin sekali, sangat ingin sekali. Dan keinginan saya terhadap buku ini hanya sebatas 'ingin' sedangkan mba, 'itu sangat ingin sekali'. Buku ini untuk kamu. "Jelas lelaki itu.

Dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku menyingkir dari jalan. Masih tertegun dengan apa yang baru aku dengar darinya. Iya, selama ini aku selalu memaksa apa yang aku inginkan semua harus aku miliki.Bijak sekali lelaki itu. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku setelah beberap kali kami bertemu ditempat yang sama. Ternyata benar, cinta memang bisa hadir karena sering bertemu,bersama dan bercanda.

Masih terekam di dalam ingatanku,saat lelaki yang kukenal di toko buku yang ternyata bernama Angga dan seorang pengusaha muda itu menyatakan keinginannya untuk menikah denganku. Dengan sebuah cincin emas putih, dia mengutarakan apa yang dia inginkan.

"Put,apakah kamu mau menikah denganku?" Tanyanya dengan nada suara yang sedikit bergetar.

Aku terpaku membisu. Jujur,aku masih belum mengerti dengan apa yang aku rasakan. Sebelum aku bertemu dengan Angga aku terlebih dahulu sudah menaruh hatiku pada pria lain. Pria yang dulu juga sempat meminangku namun justru mengkhianatiku. Tetapi,memang benar cinta terkadang membuat kita buta. Aku masih saja mencintai laki-laki yang jelas-jelas tak menginginkanku lagi.
"Apa tingkat keinginan mas ? 'Ingin', 'ingin sekali', atau 'sangat ingin sekali'?" Aku membuat lelucon.

"Di atas 'sangat ingin sekali'" Angga menjawab dengan tegas.

Aku tersenyum dan tanpa aku sadari airmataku menetes jatuh dipipi. Aku terharu. Baru kali ini aku menemukan pemuda seperti dia.

"Mengapa harus aku mas? Mas itu laki-laki yang hebat.Mas bisa dapatkan yang lebih dari Putri." Aku merendah.

Angga menarik nafas panjang.
"Put,di dunia ini kita diciptakan bukan hanya mendapatkan bahagia namun juga kita harus membuat bahagia. Mas mau membahagiakan kamu Put. Mas tau semua tentang kehidupanmu.Mas mau kamu lupakan semua kesedihanmu dimasa lalu.ada saatnya kita itu harus bangkit dan bahagia.Bangkit dari keterpurukan dan kepiluan kita selama ini " Angga terus meyakiniku.

Aku tersenyum.

"Bagaimana? Kamu maukan Put?" Tanyanya lagi.

Setelah menghela nafas sesaat, akupun menerimanya. Angga sangat bahagia. Tampaknya Angga memang bersungguh sungguh dan aku tak ingin menyia-nyiakan ketulusan yang telah dia berikan kepadaku.

Hujaan sudah mulai reda. Aku masih duduk di depan jendela kamarku. Jalanan perlahan mulai ramai kembali. Tiba-Tiba Hand Phone ku berdering membangunkanku dari lamunku.

Saat aku melihat kelayar 'No Name' yang artinya nomor yang menghubungiku ini tak ada tersimpan di kontak panggilanku. Siapa ya? Tanyaku membatin. Akupun mengangkatnya.

"Hallo..." Sapaku

"Assalamu'alaikum, apakabar?" Orang yang ada ditelpon balik menyapa.

"Wa'alaikumsalam. Baik. Maaf ini dengan siapa? " Tanyaku penuh rasa ingin tahu.

"Coba tebak,masa sih kamu gak tanda suara aku?" Lelaki yang ada ditelpon balik bertanya."Aku Alan,kamu masih belum lupa kan Put" sambungnya.

Sontak seketika seperti ada petir yang cetar menggetarkan tubuhku. Jantungku berdegup kencang. Hujaan yang tadinya reda seolah kembali turun dengan deras dan kali ini membasahiku hingga aku kedinginan. Tanganku mulai membeku.Alan,laki-laki yang sudah menancapkan luka sangat dalam direlung hatiku. Laki-laki yang pernah meminangku namun justru menghancurkan segenap harapanku kepadanya. Laki-laki pengecut yang tak punya arah hidup yang jelas. Laki-laki yang terus larut dalam masalalunya namun mengharapkan melangkah kemasa depan bersamaku. Seperti mendayung perahu,ingin maju tetapi mendayung justru ditolak kebelakang.

"Oh,kamu Alan. Ada apa menghubungi aku?" Tanyaku dengan intonasi gaya bahasa yang sedikit sinis.

"Kamu kok gitu sih Put? Apa aku sudah tidak boleh lagi tau tentang kamu? Apa kamu udah gak punya perasaan apa-apa lagi sama aku. Aku tau aku salah Put. Aku minta maaf. Aku menyesal Put. Setelah aku jalani hidup selama kita memutuskan untuk berpisah, aku baru sadari bahwa tak ada wanita yang sepertimu lagi. Kamu yang mau menerima aku dan semua kekuranganku Put. Kamu yang bisa sabar menghadapi keegoanku. Kamu juga yang bisa menentramkan hatiku disaat aku tengah gundah dan resah. Apa kamu mau kita melanjutkan hubungan kita Put. Aku janji,tidak akan mengkhianati kamu lagi." Alan memohon padaku.

Aku semakin berdebar-debar dengan apa yang diutarakan Alan dengan begitu gamblang. Jujur, aku memang masih mencintainya, aku sangat menyayanginya. Aku bahkan rela menahan sakit saat mempertahankan hubungan kami. Alan sebenarnya adalah pemuda yang baik, dia taat beribadah dan juga tak pernah mengajak aku untuk sekedar pacaran, sama seperti apa yang dilakukan oleh Angga. Namun masalahnya saat ini adalah,aku sudah bertunangan. Sebulan lagi aku akan menikah dengan pria yang juga sangat mencintaiku.

Aku seperti berada diantara dua arah yang berbeda. Yang satu menyuruhku untuk terus melangkah, yang satunya meminta aku untuk kembali. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.

"Maafkan aku Alan,beri aku waktu untuk berpikir."Jawabku.

"Baiklah,aku akan menunggu jawaban darimu Put.Aku harap,kamu tidak mengecewakanku."Pinta Alan.

Aku menutup telpon.Tak lama kemudian Bunda memanggilku. Aku keluar kamar dan menemui bunda yang tengah sibuk mengatur kue-kue yang baru dibuat kedalam rak-rak toko. Sejak ayahku meninggal, bunda lah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan dua orang adikku.

"Tadi Angga telpon bunda,katanya dia telpon-telpon kamu tapi hand phone kamu sibuk terus.Kamu telponan sama siapa sih Put?" Tanya Bunda.

"Ha? Angga telpon aku Bunda ?Bukan siapa-siapa kok bunda.itu...itu.." Aku gugup sendiri.

"Alan ?" Tebak Bunda.

"Loh,kok bunda bisa tau sih?" Tanyakku

Bunda mendekatiku dan duduk disampingku.Bunda mengelus-elus kepalaku.Seperti ada setumpuk harapan yang ingin dia katakan padaku. Sorot matanya membuat aku ingin memeluknya. Bunda memang bisa mengerti apa yang aku rasakan tanpa harus aku katakan.

"Put,dengar ya Nak.Kadang dalam hidup ini tidak semuanya berakhir dengan apa yang kita inginkan,karena dibalik skenario kita, ada skenario Allah yang lebih sempurna. Kita tidak boleh melawan dan protes, karna yang tahu apa yang terbaik untuk kita, hanya Dia." Nasehat Bunda membuat aku sedikit lega. Bunda tau betul apa yang tengah aku rasakan. Aku dilema.

"Makasih ya Bunda."Aku memeluknya.

Bunda kembali kepekerjaannya. Aku juga membantunya dengan menghias beberapa kue. Kini aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku sudah mengerti apa yang akan aku akan katakan kepada Alan nanti.

***

Malam menyapa dengan sejuk, sisa dari hujaan sepanjang hari tadi. Langit tak bercahaya karena bintang-bintang tertutup oleh pekatnya gulita mendung.Hanya satu dua bintang saja yang terlihat bersinar,salah satunya pasti bintang Serious. Bintang yang terlihat paling bersinar dari bumi.

Aku mengambil hand phone ku. Kucari nomor Alan yang siang tadi menghubungiku. Dengan menarik nafas panjang, aku menekan tombol memanggil dan,masuk.

"Assalamu'alaikum Putri."Sapanya dengan salaam kepadaku.

"Wa'alaikumsalam Alan. Alan, aku mau menjawab pertanyaan kamu tadi pagi.Aku...Aku sangat menghargai usahamu untuk berubah dan memperbaiki diri lagi. Tapi Lan,aku benar-benar minta maaf..aku tak bermaksud untuk melukaimu,atau tak memberi kesempatan kedua kepadamu. Kadang dalam hidup,kita memang hanya punya 1 kesempatan Lan,dan disaat kita menyia-nyiakannya kita tak punya kesempatan lagi dalam memngulanginya. Begitu juga dengan hubungan kita. Hampir setahu Lan,aku menunggumu dan berharap kamu akan datang kembali,namun tampaknya Tuhan berkata lain. Aku dipertemukan-Nya dengan laki-laki lain yang saat ini sudah menjadi tunanganku. Aku sudah bertunangan Lan. Aku tau, hubungan tunangan memang bisa dibatalkan,tetapi Lan..maafkan aku, aku memilih setia pada tunanganku.Terimakasih kamu sudah berniat untuk kembali kepadaku. Inilah jalan hidup kita Lan..seseorang pernah mengatakan kepadaku,bahwa kita diciptakan bukan hanya untuk menikmati bahagia tetapi juga harus bisa membuat bahagia.Kamu adalah bahagiaku Lan, tetapi aku adalah bahagianya Angga.Calon suamiku. Sebulan lagi kami akan menikah Lan." Jelasku dengan perasaan yang sedikit tertekan.

Ya, inilah saatnya aku mengakhiri semuanya. Aku sudah tau apa yang seharusnya aku lakukan. Meskipun menyiksa batin, tapi aku yakin ini yang terbaik dan sejak komunikasi ditelpon malam itu, aku dan Alan lost contak.

Sebulan kemudian.

Aku duduk didepan cermin. Dengan gaun kebaya silver paduan merah muda dan kerudung yang membalut dikepalaku aku terlihat begitu bahagia. Ya, kini aku tau bahagia itu juga bisa hadir disaat kita membahagiakan orang lain.

Setelah ijan qobul selesai, aku mencium tangan Angga. Semua yang pernah ada dihati luntur oleh sentuhan pertamanya. Kecupan pertama, dan pelukan yang pertama. Ya, semua adalah hal yang pertama dalam hidupku. Kecuali cinta, cinta yg kuberikan kepadanya adalah cinta terakhir.
h

7.5.14

Rahasia Hati

    Dalam kalutnya pikiranku,aku terus memandangi sebuah foto seorang wanita yang sempat aku kenal beberapa bulan yang lalu.Namanya Klara.Perempuan berkerudung pink yang sudah membuat hidupku lebih baik tatkala aku hampir jatuh kedalam kumbangan lumpur hitam dunia.Lembut suaranya dan sendu kedua bola matanya semakin mempertegas keyakinanku jika aku memang telah jatuh cinta padanya,Dan kali ini cintaku tulus.Jika selama ini aku mendekati seorang wanita hanya untuk nafsu semata,berbeda dengan saat aku mengenalnya.

"Klara...maafkan aku,tak ada maksudku untuk menjauhimu.Namun perasaanku saat ini tidak dapat aku mengerti." Aku membatin.

Klara sering menghubungiku,namun tak pernah kugubris.Aku semakin tersiksa dengan keadaan ini.Aku berniat untuk mengganti no ponselku.dan menghapus kontak Pin nya.Aku ingin menghilang dari hidupnya.

"Vo, kamu dimana ?kenapa gak pernah ngasih kabar ? Apa kamu °ϋ∂αђ° gak mau meneruskan hubungan kita. Kedua orangtua ku terus menanyakan kapan kamu akan memenuhi janjimu untuk menikahiku. Revo,kenapa pesan dariku hanya kamu Read saja ? Apakah aku bersalah hingga kamu tidak menjawab pesan-pesanku." From Klara.

Pesan itu sudah beberapa bulan yang lalu Klara,dan aku masih menyimpannya. Ya..aku masih menyimpannya,sama seperti aku masih menyimpan wajahmu direlung hatiku. Ada rasa rindu yang terus menusuk nusuk naluri ini, bagaikan menggenggam tangkai mawar merah.Aku juga terluka klara,sama sepertimu.Namun ...maafkan aku.

Apa yang harus aku katakan pada gadis seindah dirimu tentang kenyataan suram ini klara.Ah,pelik nya Klara.Aku sudah tak bisa lagi untuk melangkah kemasa depan bersamamu karena kini aku kembali terjun kedasar suramnya hidup seperti saat aku belum mengenalmu.

Kini aku tak pernah lagi mengetahui tentang kabarmu.yang aku ingat hanya senyum terakhir yang kau berikan untukku.Aku yang jahat Klara,aku yang telah menghancurkan indahnya mimpimu.Mimpi kita.Maafkan aku Klara,aku telah mengkhianati cintamu.Gadis suci sepertimu tak layak bersanding bersamaku.Namun sungguh Klara,aku sangat menyayangimu.Cinta ini biarlah menjadi rahasia hatiku.

Seperti Siang ini Klara,aku dan apa yang tersimpan baik dihatiku masih terus menangisi kisah kita yang kian kusam keberadaannya.Saat aku akan memarkir motorku didepan halaman kantorku.Tanpa sengaja aku mendengar tentang kecelakaan maut yang menewaskan seorang gadis remaja dan satunya lagi kritis,lokasi kejadiannya tak jauh dari lokasi kantorku. Ciri-ciri gadis itu serta seragam yang dia kenakan adalah seragam kampusmu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kembali motorku.Tahukah engkau Klara...sepanjang jalan menuju kesana yang terus ada di dalam pikiranku hanya dirimu.

Laju kencang motorku tak terasa lagi,basah pipi ini dengan airmataku.Semoga wanita itu bukan dirimu Klara.ku mohon jangan tinggalkan aku dengan keadaan seperti ini.

Sesampainya di lokasi ternyata korban sudah dibawa ke RS terdekat.aku kembali mengambil motorku,,dan kali ini membawanya dengan kecepatan lebih tinggi.Klara...

"Revo,nanti kalau kita sudah menikah...kamu mau punya anak berapa?...Revo...banguuunn..kamu belum sholat subuh. Revo,,jangan suka pakai celana pendek..itu aurat.. Ih,kamu yaa...ketiduran sampai-sampai sholatnya tertinggal. Gak boleh tidur larut-larut..gak sehat Tau..ngapain sih suka banget jadi pembalap,itu bahaya revo..."

Klara,aku merasa tubuhku terdampar dipinggiran trotoar.Cairan merah keluar dari lubang hidungku.Apa yang terjadi padaku klara,aku kesakitan Klara.Tetapi hatiku masih lebih sakit.

"Aku stres Amanda.Banyak masalah yang membuat pikiranku kalut.Aku mencintainya,namun aku tak tahu apakah aku bisa membahagiakannya." Curhatku pada Amanda.

"Sudahlah revo,tak perlu memikirkan yang berat-berat.Sekarang kita senang-senang saja." Tangan Amanda mendekapku dari belakang.

Gelap Klara,tak ada cahaya lagi. Hanya suara sayup-sayup yang terdengar ditelingaku. Engkaukah itu Klara.Dimana ini klara.

"Revo...sini." *Klara tersenyum

"Kita mau kemana Klara?" Tanyaku

"Kita akan sama-sama menemui Tuhan,dan bertanya.Apakah aku tercipta dari tulang rusuk mu atau tidak." *Klara Said.

Selembar kertas jatuh dari langit.jatuh tepat ditelapak tanganku Klara..Namun terlalu silau untukku membaca apa yang tertulis disini.Dimana engkau klara mengapa menghilang dengan tiba-tiba.

Aku tersentak.
"Mas,...mas sudah siuman ? " *perawat said.
"Saya dimana mba?" Tanyaku.
"Mas tadi kecelakaan,dan tidak sadarkan diri" *jelas perawat.

Mengapa hidupku seperti ini.Aku bisa gila jika terus seperti ini,ya Robbi...tolong aku.

"Hay bro,gimana ceritanya Lo bisa ketabrak.Masa sih seorang Revo,pembalap dikota ini bisa jatuh dari motor " *teman-teman Revo

"Gue gak tau bro,gue gak fokus aja tadi bawa motornya.Gue buru-buru pingin cari tau siapa yang meninggal dikecelakaan maut tadi siang."

"Oh,yang dua gadis itu..iaa sih.kasian banget. Yang satunya meninggal bro,satu nya lagi kritis.Di RS ini jga bro."

Aku langsung bangkit.tak ku hiraukan cegatan teman-temanku klara.sesudah menanyakan kesana kemari,akhirnya aku menemui ruang dimana gadis yang tengah kritis itu berada.

*didepan ICU.
Aku tersontak terkejut,itu bukan kamu klara.jadi...jadi..yang tewas itu...Ya Tuhan.Klara,,,mengapa kamu harus meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku terduduk lemah,menyandarkan kepalaku kedinding.Masih teringat jelas senyum terakhir yang kau beri untukku klara,sebelum aku menodai cinta kita dengan wanita itu.aku menangis,airmataku tertumpah diatas luka sayatan kesalahanku.Aku bahkan belum sempat menceritakan apa-apa padamu klara.aku belum sempat memberikanmu hadiah untuk ulang tahunmu nanti.Maafkan aku klara...maaf kan bajingan ini...

"Revo..."

Aku terbangun.terpaku.terdiam.membisu.wajah ini...wajah kemayu yang kukenal beberapa bulan yang lalu.Kerudung merah muda itu,membalut kapala menambah rona wajahnya yang putih bersih. Dua bola mata arab dengan alis rapi alami dan hidung mancung.

"Klara..."

"Kamu sedang apa didepan kamar teman aku? " Tanyanya.

Aku tak menjawab,masih terpana oleh wajah indahmu klara.aku tersenyum...ingin memelukmu namun aku tau kau bukan wanita sembarangan yang dapat kusentuh begitu saja.

"Revo. Kok kamu malah melamun."

"Eh,,,gak..aku tadi cuma numpang lewat aja.lelah,jadi aku duduk disini."

"Revo, kamu kok diinflus gini ? Kamu kenapa ? Harus segitunya untuk menjauhiku sampai-sampai aku tidak boleh lagi tau keadaan kamu ? Iaa ? "

"Bukan klara...aku tidak apa-apa hanya saja jatuh dari motor tadi pagi"

"Tuh kan,apa kataku.kamu sih,disuruh berhenti jadi pembalap gak mau."

"Kalau aku berhenti balap,trus masa yang jadi pembalap kamu "

"Ih,kamu ya...masih aja bisa bercanda..sakit gak.."

Tawamu klara.biarkan kusimpan dihatiku.seperti aku membiarkan waktu berjalan seperti seharusnya.kini aku merasa waktu seakan kembali kemasa masa dimana aku dan kamu masih sebagai sahabat.bertemu didepan masjid saat aku sekedar iseng membasuh wajah,namun terpaksa sholat karena malu akan dua bola matamu yang terlanjur memperhatikan gerak gerikku.

Semua biarlah berjalan sebagaimana yang Tuhan inginkan.Surat yang jatuh ditanganku itu,suatu saat akan ku tahu apakah nama yang tertulis disana sebagai tulang rusukku adalah...KLARA

Angkasa Senja

Retak,pecah,Hancur,itulah keping hatiku saat mendengar perceraian kedua orang tuaku.Kau tak tahu Angkasa,bagaimana sakitnya melihat kedua orangtua kita berpisah.

"Tidak semua kisah akan berakhir pilu Senja" itu yang selalu kau katakan.Tapi untuk bangkitpun aku tak mampu.sekarang,kau justru ingin aku belajar mencintaimu ? Apakah kau sudah gila ? Ketakutanku pada jatuh cinta itu seperti candu yang memaksaku untuk lebih baik menyendiri saja.

"Bangkitlah Senja...lupakan traumamu pada kegagalan cinta. Aku sungguh menyukaimu" .pengakuanmu Angkasa,sedikit membuat celah direlung hatiku untuk berdiri.lelaki yang tak lain adalah teman satu kuliahku ini memang sangat perhatian dengan keadaanku.Di saat semua kebanyakkan pria memilih wanita dari keluarga yang harmonis,dia masih mau mendekati wanita yang kini keluarganya sudah terpecah belah.  

"Aku mencintaimu Senja...Aku ingin membahagiakanmu"

Gemetar aku membaca pesan darimu. Ya, selama ini aku memang selalu gagal dalam mencintai.Bahkan Ayah dan bunda pun menambah tekanan batin yang terus membuatku jatuh kedalam lembah fobia akan cinta.

Belum lagi saat ku mendengar vonis dokter tentang tumor yang ada didadaku.Itu mengiris hati Angkasa. Namun aku tau kau tak ingin melihat aku lemah seperti ini.

Lidahku kelu.Tak tahu harus menjawab apa.Selama ini kau selalu menyemangatiku.Bahkan dikala aku hampir mati bunuh diri.Kau orang pertama yang menangisiku.Angkasa...adakah aku layak bagimu? Aku tak ingin melukai mesin penyemangatku.Aku juga tak akan menyia nyiakanmu.Aku juga akan bangkit karna cintamu.

Namaku Senja, dan aku masih bertahan hidup karena cinta.Cinta dari lelaki bernama Angkasa yang sekarang adalah suamiku.

17.12.13

Jangan Biarkan Bidadarimu Menangis Di SURGA 'sana' 





oleh Cut Elvi Anita

Kisah seorang pria


Disebuah kota, laki2 ini adalah laki-laki yang buruk agamanya.Setiap malam dia hanya menghabiskan waktu dengan bermabuk mabukan dan bermaksiat dengan wanita-wanita yang bukan muhrimnya.Harta dan jabatan yang dia miliki ternyata membuatnya semakin larut dalam kesesatan yang nyata.

Sampailah pada suatu malam,,dia kembali kekamar hotelnya dalam keadaan mabuk sambil membawa wanita 'nakal'nya.Setelah puaskan nafsunya…diapun terlelap tidur.Sampai tiba-tiba dia terbangun ,dan tersentak setelah mendengar suara isak tangis seorang wanita.Dia pikir itu adalah suara isak tangis wanita ‘nakal’nya,ternyata bukan.Suara itu berasal dari kamar sebelah.Karena rasa penasarannya,laki-laki itu mencoba untuk mendekati arah suara tersebut.

Saat dia sudah sampai pada pintu kamar tersebut,dia mencoba untuk membukanya..dan pada saat pintu sudah terbuka betapa terkejutnya ia..karena dia melihat sesosok wanita yang sangat cantik luar biasa,mengenai gaun pengantin yang indah nya tak pernah ia lihat selama hidupnya.Kepalanya dihiasi kerudung putih berbalut melati dan harus kasturi..matanya basah dengan air mata yang bening laksana embun yang tersinari mentari pagi…kulit tangannya putih ..sangking putihnya,,seakan akan semua urat dan tulangnya tampak dari luar…raganya bercahaya ,,suci,,seperti tak pernah tersentuh apapun…

Laki-laki sampai terpesona..lalu ia mendekati gadis jelita tersebut seraya bertanya…

“haii,,wanita cantik,,kenapa kamu menangis???”

Wanita itu memandang laki-laki yang berdiri dibelakangnya..seraya menjawab..

“aku mengis karena mu!”

Sang pria heran dengan jawaban gadis itu.lalu ia bertanya lagi.

“Karena aku?? Kenapa??”

Sang gadis bangkit dan berdiri didepan pria itu..lalu menjawab.

“Ya…karena engkau sudah menyia-nyiakan aku.AKU ADALAH BIDADARI YANG ALLAH SEDIAKAN UNTUK MENJADI ISTRIMU DISURGA KELAK, tapi dengan engkau terus bermaksiat dibumi seperti ini…maka Allah tidak akan pernah mempertemukan kita,dan aku tidak akan pernah menjadi milikmu diakhirat kelak setelah kematian dan kebangkitanmu kembali..padahal aku sangat merindui kehadiranmu. Itulah yang aku tangisi setiap kali aku melihat hidupmu terus bergelimpangan dosa seperti sekarang ini..”

Laki-laki itu terlutut didepan sang bidadari…dan dia menangis terisak isaknya..sambil berkata maafkan aku…maafkan aku….

Tak lama..laki-laki itu tersentak,,ternyata ia bermimpi…sadar ia sedang tidur dengan wanita ‘nakal’nya..iapun bergegas bangkit ..setelah mengenakan pakaiannya…iapun pergi meningglkan hotel tersebut….AKANKAH DIA SADAR???

Wallahu’alam bisshowab…



Note: Cerita ini hanya fiktif semata.hanya sebuah kisah sebagai inspiratsi.

Kisah Gadis Penjual Nasi Keliling

Kisah Gadis Penjual Nasi Keliling 



Oleh : Elvi



Hai, kenalin.Namaku Cahaya, panggil saja aku dengan nama Aya.Dulunya,aku ini cuma cewe kampung yang bercita-cita bisa sukses dan hidup berkecukupan.Dulu aku hidup penuh dengan hinaan,dicemoohkan dimana mana,di rendahkan, di caci maki.Segala jenis penderitaan bisa dikatakan sudah aku lalui.Namun aku tak pernah menyerah dalam menjalani hidup,karena aku tau...Tuhan,tdk akan pernah tidur.Saat aku berusia 8 tahun,aku pernah menjadi seorang pemulung.Yaah,bukan pekerjaan tetap sih,aku ini seorang penjual nasi keliling.Bukan dengan motor,bukan dengan sepeda, tetapi dengan grek dorong.You know "grek dorong" sob ?. Sejenis gerobak yang didorong kedepan,biasanya sih dipakai ama kuli bangunan,buat ngangkat2 semen atau pasir.
gak juga jauh-jauh,palingan sekitaran sekolah aku aja.Kadang demi nungguin nasinya laku,aku sering masuk sekolah.Dan parahnya lagi,kalau nasinya gak habis terjual,aku terpaksa ngantongin semua tuh nasi dalam tas ransel aku dan apa kalian tau,itu berat banget tauu.Buat anak seusia 8 tahun,itu beban yang gimanaaa gitu.Meskipun aku bisa dibilang agak-agak tomboi gitu,tapi aku kan tetap anak cewe .Setiap pagi aku harus bangun disaat ayam berkokok.Denger2 kata orang sih,supaya rezekinya kagak dipatok ayam. (ƗƗɐƗƗɐ"̮...ƗƗɐƗƗɐ"̮...ƗƗɐƗƗɐ"̮. ).Dan hal ini setiap hari aku lakukan,kecuali kalau waktu aku sakit.Aku gak akan bangun sepagi itu.Selesai sholat subuh,aku mulai deh tu,ngebungkus nasi buat dibawa keliling-keliling perkotaan.Forget it.Kita lanjut.Dari tadi uda cerita panjang lebar,aku belum kasih tau tentang kedua orang tua aku.Jadi,ayah aku itu udah meninggal dunia sejak aku usia 5 tahun gitu.Ayah aku kecelakaan waktu dia kerja di sebuah pabrik tekstil.Kurang tau juga gimana kejadiaan yang sebenarnya,ibu bilang sih karna itu.Aku juga gak berniat mencari tau pasti,because usia aku waktu itu masih kecil banget.Jadi,yaah..it's no problem buat aku.Toh ajal itu kan berbagai macam alasan datang kepada manusia,yakan?By the way,kita langsung aja ya,masuk ke masa masa SMA aku.Masa-masa yang "katanya" ,penuh ambisi dan masa paling indah,karena kita mencari jati diri kita pada masa-masa ini.But,buat aku biasa aja sih,karna bagi aku,mau masa SD kek,SMP kek,SMA kek..aku tetap aja kayak gini,"Gadis Penjual Nasi Keliling", .Tetapi perasaan pasrah itu cepat aku tepis ketika aku sering bertemu dengan orang-orang angkuh dan sombong. (WAAAW) agak aneh ya,aku berubah karna ketemu orang-orang angkuh dan sombong.Apa hubungannya? Pasti semua orang akan bertanya seperti itu.Tapi ada.ada hubungannya kok.ets,tapi ntar dulu..hubungannya bukan aku yang tervirusi sifat menjijik kan itu,tapi aku justru tersemangati,karna ternyata aku yang sebenarnya adalah aku yang paling anti dengan ke angkuhan dan kesombongan.Aku tidak suka melihat orang-orang yang merendahkan orang lain,nenganggap remeh apa yang tampak dimata nya lebih tidak baik dari dirinya adalah orang yang kalau diumpamakan,dia yang makan nangka kita yang kenak getahnya,(eh..salah,itu gak nyambung),yang ini.."Merasa kulitnya dari emas dan orang lain dari batu hitam".Dari situlah aku mulai berpikir.Kayaknya,kalau aku mau berhenti di pandang sebelah mata oleh orang lain,aku harus maju ne.gak boleh terus-terusan berteman ama ne grek.Kebetulan waktu itu ada lomba menulis puisi dikotaku,akupun ikuti.Yaah,meskipun gak bisa dikategorikan jago menulis,aku ini punya lah,sedikit kemahiran dan hal tulis menulis.So,siapa yang nnti jadi suamiku,siap2 aja diputisin tiap hari (ƗƗɐƗƗɐ"̮...ƗƗɐƗƗɐ"̮...ƗƗɐƗƗɐ"̮. ).
.Aku pun mulai teken kontrak,wiss..keren... Masih SMA udah bisa menghasilkan sendiri. Kini tulisan-tulisanku sering muncul di dunia maya dan juga dunia nyata..Kini aku punya segalanya,dulu kepingin banget punya notebook,sekarang udah ada,pengen BB,°ϋ∂αђ° punya,pengen rumah,tersedia.Sebenarnya gak ada yang gak mungkin,kalau kamu-kamu semua mau berusaha.betapa banyak kan,anak pedesaan yang sukses seperti yang kita lihat di Televisi-televisi.Dan itu karna mereka USAHA, bukan cuma kerjaannya nangkring di warung kopi.Nungguin duit jatuh sekarung dari langit.Mulai dari hari ini,ubah kebiasaan burukmu yang bisa jadi, itu penyebab kamu gak pernah sukses dalam cita-cita.mencapai kesuksesan itu gak meski dengan cara duduk dibangku kuliahan kok.bahkan kalau yang gak pandai membawa hidup,ada juga yang udah S2 tapi malah duduk2 di pinggir kali tiap hari,pergi pagi pulang sore nungguin ikan makan umpan mata pancingannya,tapi biarpun cuma sampai SMA,bisa kok buka bengkel.Bengkel sorum mobil diatas kelas BMW.hehe .So, gimana cerita fiktif ini.cukup memotifasi kamu kan ? Maaf kalau ada yang dari awal pikir ini nyata.cuma kisah inspiratif aja kok.tapi ya itu,cuma khayalan( karna hidup berawal dari mimpi sob)... Kita singkat aja ya ceritanya,walhasil.aku menang,juara 1 lagi.aku pun mulai masuk media masa,wajahku nongol di majalah-majalah remaja.selepas itu,aku mulai kecanduan menulis,akupun akhirnya menulis sebuah cerpen,tentang kisahku..dan ternyata ada penerbit yang menyukainya
Karya : LV


3.1.13

Hidayah Tanpa Lisan


Disuatu pagi yang cerah.

“Hahahha…kali ini aku pasti menang lagi. Lo jangan merasa akan berhasil ngalahin gua..” terdengar suara seseorang dari dalam sebuah rumah yang tidak begitu bagus pondasinya.

“Sial…duit gua habis semua.” Cetus satunya lagi.

Mereka tampaknya sedang melakukan aktivitas yang terlarang.Jelas saja, mereka sedang bermain judi,di tambah lagi minuman keras(khamar).Sungguh perbuatan yang sangat dilarang oleh agama Islam.
Mereka kelihatannya sedang meributkan tentang siapa yang akan menjadi pemenangnya dalam permainan kali ini.Seorang laki-laki bertubuh gagah dan wajah yang lumayan tampan dengan pakaian acak-acakan,tampak begitu berambisi untuk menang.Sekali-kali ia mengisap rokoknya,dan menghembuskannya.Tiba-tiba dia berteriak..

“Gue menang…hahahhaha.gue menang lagi Roy…”

“Ahh,,,”keluh teman-temannya.

Mereka sangat kesal atas kemenangan pemuda itu.Pemuda yang ternyata bernama Andi.Tampaknya, dia bukan pemuda baik2,kelakuannya sering sekali membuat resah warga sekitar.Sejak seminggu yang lalu dia dan Genknya menetap didesa itu, di sering membuat ulah dan kegaduhan dimana-mana.Tapi tidak ada yang berani untuk melarangnya.Selain karena badannya yang besar, dia juga punya kelompok –kelompok preman.Kerjanya setiap malam mabuk,mabukan.Judi, dan suka menggoda gadis-gadis desa.Sangat memprihatikan hidupnya,Jauh dari agama, dan tidak punya tujuan akhirat yang jelas.entah apa yang ada dibenak pemuda 25 tahun itu.

Kali ini dia menang judi lagi.Seperti biasa dia akan traktir teman-temannya.Ada juga sisi baik laki-laki itu, tapi…apalah artinya berbagi dengan sesuatu yang haram.Ibarat kata, jika biji buah mangga busuk yang kita tanam, pasti tumbuhnya juga akan busuk.Itulah yang saat ini banyak disalah artikan oleh orang2, berpuasa,tetapi aurat terbuka, sholat,namun tiap malam minggu keluar dengan yang bukan muhrimnya, naik haji,tetapi mngunjing orang lain.dan membayar zakat,tetapi dengan hasil korupsi dan mencuri.Astaghfirullah…

Pemuda itu sudah keluar dari rumah perjudiaannya,dia terus mengibas ngibaskan uang hasil judinya.Sesekali dia tersenyum-senyum sendiri.Dan disaat dia sedang mengibas-ibaskan uangnya,tiba-tiba lewat seorang wanita muda mengenakan jilbab merah muda,dan kerudung juga merah muda,namun warna kerudungnya,lebih pudar dibandingkan warna jilbabnya.Dia sangat cantik.Wajahnya memancarkan cahaya ilahi,sepertinya wajah itu tidak pernah lepas dari air wudhu,dan sujud pada ilahi Robbi.Dia bagaikan bidadari dunia.Dia Muslimah yang sholehah.

Andi terpana melihatnya.Lalu dia bergegas memanggilnya.

“Hai tunggu..”

Yang dipanggil tidak menoleh.Dia terus berjalan.Gadis itu membawa keranjang penuh kue dan nasi bungkus.Andi geram karena sapaannya tidak digubris sama sekali.Dia berlari menghampiri wanita itu.Dengan nada kesal dia mengocegah didepan wanita itu.

“Heh,,lo bude’ ya,Gue panggil gak nyahut.Lo gak tau gue siapa?? Gue orang paling ditakuti didesa ini.Kalau lo gak mau ada masalah apa2,lo jangan buat gue keseel,ngerti lo.”Bentaknya pada gadis itu.

Tapi wanita itu malah tersenyum.Dan menunjukkan kue-kue nya.Andi bingung.Dia tambah geram karena si gadis tidak takut pada gertakannya,dia malah tersenyum.Kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya.Dan bangkit,lalu pergi meninggalkan sejuta tanya dibenak Andi.Andi tercengang.Dan berlari lagi mengikutinya.Sambil bertanya tanya.

“Lo,jangan sombong jadi cewe’,Gue bisa buat hidup lo susah.Ga’ paham apa Lo??”

Wanita itu tersenyum lagi…Andi semakin gila dibuatnya.Wanita itu berlalu lagi.Andi semakin geram dibuatnya.

Dia terus melihat gadis itu yang sudah jauh darinya.Orang-orang datang menhampiri gadis itu untuk membeli kue-kuenya.Sesudah diberi uang,pembeli-pembeli itu pun pergi,Tiadak ada yang berbicara.Andi mengerutkan keningnya.”Gila” itulah yang dia ucapkan sebbelum berbalik arah dan berlalu.

Suara adzan berkumandang.Sungguh merdu dan membuat hati tenang mendengarnya.Allah sedang memanggil hamba-hambanya untuk sujud pada-Nya.Layaknya seorang kekasih yang meminta kekasihnya untuk menemuinya.Karena rasa cinta dan rindunya.

Seorang wanita yang sejak pagi tadi keliling membawa dagangannya tampak kelelahan dan memutuskan untuk pulang kerumah.Namun dia tidak tahu bahwa diperjalanan pulang, dia diikuti oleh seseorang.Seseorang dengan gaya ugal-ugalan,tidak lain dan tidak bukan adalah Andi.Tampaknya dia masih sangat penasaran dengan gadis berkerudung itu.Seumur hidup,mungkin baru kali ini dia dicuekin kaya tadi pagi.Dan kali ini,dia harus berhasil membuat wanita itu buka mulut.

Gadis itu sudah sampai di rumahnya.Rumah yang sangat sederhana dan tampaknya tidak ada barang yang berharga.Hanya ada sebuah dipan beralaskan tikar tua.Sebuah meja,buku dan disampingnta Al-Quran.Mukena,sajadah,dan tasbih yang tergantung rapi.begitu sampai didepan pintu, wanita itu langsung disambut oleh seorang wanita tua,dan 2 orang anak-anak satu perempuan dan satunya lagi laki-laki.usia mereka mungkin berkisar antara 10 atau 11 tahun.Andi terus memperhatikan wanita itu.Kali ini dia hanya gerakan tangan.Seperti bahasa isyarat.Andi semakin bingung.Dan dia memutuskan kembali setelah wanita itu masuk kedalam rumahnya.

Diperjalan kembali,dia bertemu dengan Roy,lawan judinya semalam.

“Hai bro, dari mana Lo??mentang-mentang baru menang judi, Lo maen ngilang-ngilang aja.”sapa Roy.

“Gue tadi lagi nyari tau sesuatu,dan gue rasa Lo pasti tau.?”tanya Andi.

“Apa itu Bro?”

"Gini Roy, Lo kan dah lama ne tinggal disini,nah gue mau tanyak sama Lo.Lo tahu gak cewe' yang tinggal dirumah itu" Tunjuk Andi kearah rumah gadis berkerudung merah muda itu.

"Oh, tau dong.Emang kenapa sih?"

"Gini Roy..Gue heran aja.Dia kok gue ajak ngomong gak mau jawab yaa?? pertama kali gue jumpa dia,dia senyum aja,dua kali jumpa dia masih juga senyum,bahkan ketiga kalinya gue hampirin,dia masih aja senyum2,,
bahkan setiap kali bertemu,dia juga hanya senyum2..…dia bisa ngomong gak siiihhh…???”

“hahhaha,,” Roy tertawa…"sini,,gue bakal kasih tau Lo.." ajak Roy
Andi bingung juga dibuat oleh temannya.Lalu Roy menepuk nepuk bahu Andi.Sambil menyebut-nyebutkan namanya.
“Friend, jelas aja omongan Lo gak dijawabnya.Dia kan gak bisa ngomong.” Roy tertawa geli..
“Ntar,,ntar ..ntar..maksud Lo,…. Dia…. Bisu??” tanya andi.
Roy Cuma ngangguk.Andi melihat lagi kerumah gadis itu.semacam ada kasian dihatinya.Yaah,walaupun dia seorang yang lalai dalam masalah agama, setidaknya dia bukanlah srigala yang tidak punya belas kasian kepada orang lain.
“Namanya Asma.dia penjual kue keliling.Dia bisu sejak kecil.Tapi dia juga pintar menulis bahasa arab juga bahasa indonesia.kalau Lo mau ngomong ama dia, Lo mesti pake bahasa Isyarat.Kaya gini..” Roy memperagai gerakan tangan nya.lalu dia tertawa sendiri.
“Sayang banget ya, padahal dia cantik banget..”Andi seperti terlena dengan kata-katanya.
“heh, kalau Lo mau dekat ama dia.Lo mesti jadi dulu kaya Uje.”Saran Roy dengan nada ngejek.
“Uje??” tanya Andi.
“Iya, Uje ..Ustadz Jefry,,ahahhaha…Assalamu’alaikum?? “Roy mengolok-oloki Andi.
“Sialan Lo.”Mereka kemudian berlalu meninggalkan temapat itu,karena Andi harus menepati janjinya untuk mentraktir teman-temannya.
Azdan berkumandang lagi.Maghrib menyapa.Semua aktivitas terhenti.Manusia harus bangkit untuk menemui Robb-nya lagi.Seorang wanita bangkit dari duduknya, dan bergegas untuk mengambil wudhu.Selesai Wudhu dia sholat.Dan membaca Al-Quran tanpa lisan.Asma.itulah nama gadis itu.Seorang wanita usia 23 tahun,yang menderitar bisu. Bisu, tunawicara, atau gangguan bicara adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Bisu disebabkan oleh gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah, dsb. Bisu umumnya diasosiasikan dengan tuli. Dan itulah yang dialami oleh Asma.Tapi meskipun dia cacat, dia sangat pintar menulis dalam bahasa indonesia dan arab,Asma ialah gadis yang taat beribadah,senantiasa menutupi bagian tubuhnya yang wajib ditutupinya, dan ramah kepada siapa saja.Asma memang terlahir cacat, namun dia tidak pernah merasa tidak sempurna, karena dia memiliki sesuatu yang belum tentu ada pada wanita lain dizaman sekarang ini, yaitu keimanan yang kuat kepada Allah,Tuhan semesta alam.
Asma slalu ingin hidupnya berarti bagi siapapun.Dia juga tidak memilih milih dalam bergaul dengan orang lain.meskipun wanita-wanita didesa itu umumnya tidak berpakaian sepertinya, namun Asma selalu beranggapan, bahwa semua itu cukup, yang Maha Kuasa yang menilainya.Seseorang yang saat ini kita lihat buruk,belum tentu selamanya ia akan buruk,mungkin suatu hari nanti,dia akan menjadi yang lebih baik dari kita.Dan kita, belum tentu sekarang baik,dapan mempertahankan apa yang saat ini kita jalani.Karena sesungguhnya, “mempertahankan itu jauh lebih berat, dari pada mengubah”.Untuk berubah, hari ini mungkin semua orang bisa, tetapi saat ia mempertahankan perubahan itu, hanya sebagian kecil yang mampu.Karena keimanan, ibarat grafik yang bisa naik, dan turun kapan saja.Bukankah Allah sendiri,suka membolak-balikkan hati manusia.Dia suka menguji kita dengan hal-hal yang mampu menggoyah keimanan hati kita.Dan tidak sedikit didunia ini, seorang pelacur yang mati diatas sajadahnya, atau seseorang yang taat mati bunuh diri.karena itu, hiduplah untuk Allah, jika kita mampu hidup untuk Allah, maka kita mampu menyeimbangi pikiran kita, bahwa hidup…hanya untuk Allah,dan insya’ Allah, kita tidak akan salah melangkah,karena tujuan utama adalah Allah.Bukan sekedar ingin dilihat sempurna oleh manusia, atau ingin sekedar terlihat hebat oleh dunia.
Pagii sudah menyapa.Sinarnya menerangi setiap sudut belahan bumi yang terkena pancaran sinarnya.Asma sudah siap-siap untuk berjualan,Semalam selesai membuat kue dengan ibunya, Asma langsung tidur.dan bangun jam 5 subuh.Memang melelahkan,tapi Asma terlihat senang melakukannya.Ibunya memberi isyarat..(*kalau uda lelah,pulang aja yaa??).Asma menganggungkan kepalanya.
Dia melangkah keluar rumah, sepanjang jalan dia hanya tersenyum,senyum keikhlasan.Tidak ada yang lebih baik bukan dari keikhlasan,Bahkan Surga juga hanya untuk orang-orang yang ikhlas.Sholat,jika hanya karena orang tua,maka tidak diterima, berkerudung jika hanya karena tuntutan sekolah, atau kantor, maka tidak berpahala.begitu juga lainnya.
Asma terus melangkah, menyusuri setiap jalanan desa.Sementara Andi, terus terdiam teringat akan kata-kata teman-temannya semalam,saat dia sedang mentraktiri sahabat-sahabat premannya makan bakso.
“Eh, gue denger cewe’ cantik penjual kue itu,kaga’ bisa ngomong ya..”cetus salah satu dari mereka.
“iyaa, kasian banget yaa, untung bukan gua yang terlahir kayak begitu..hahahha..”ejek satunya lagi sambil tertawa.
Mulai saat itulah, Andi terus dibayangi oleh wajah Asma.Senyumnya.Tawanya,bahkan diamnya Asma.Wanita itu seakan menyimpan sejuta cahaya dari setiap tatapan matanya.Entah perasaan apa itu, Andi sendiri sulit untuk menafsirkannya.Tapi yang pasti, Andi sedikit bergetar hatinya dan rasa menggebu-gebunya untuk bertemu lagi dengan Asma semakin besar,namun kali ini, bukan keinginan sekedar menganggu Asma, tapi lebih kepada perasaan hati,bukan nafsu.Karena itulah, pagi itu Andi menemui Asma,ditempat yang biasa dilewati oleh Asma.
Asma menghentikan langkahnya saat Andi sudah berdiri dihadapannya.Andi mengeluarkan secarik kertas.Dan menulisnya.Mereka komunikasi lewat tulisan.
“Aku Andi”
“Asma”
“Sudah lama berjualan?”
“sejak Ayah ku meninggal”
“Apakah aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Tolong ajari aku masalah agama dan arti hidup yang sesungguhnya.”
“Maaf, saya harus kerja,nanti kesiangan.”
Asma mengembalikan kertas itu Andi.Dia bangkit dan pergi meninggalkan Andi…


Andi terus memandangi Asma yang berlalu dihadapannya.Adakah yang tahu apa yang dirasakan oleh lelaki itu.Seorang pria yang menghabiskan hidupnya selama ini, dengan penuh tingkah laku maksiat.Semua bentuk kemaksiatan bahkan sudah pernah dia rasakan.Mungkin hatinya benar2 terketuk untuk kembali kepada-Nya.
Siang mulai hadir secara perlahan..suara belum terdengar.Asma berhenti sejenak untuk sekedar melepaskan lelah.Peluhnya menetes dikening dan mengalir diwajahnya yang putih bersih penuh cahaya itu.Kecantikan Asma begitu alami.Bukan sekedar kecantikan polesan kosmetik semata..tetapi juga kecantikan hati dan budipekertinya sangat jelas melukiskan bahwa air wudhu pada wajahnya selalu menyiraminya.Asma tidak seperti gadis2 lainnya.Meskipun dia bisu, tetapi dia selalu optimis pada kenyataan hidup.Mungkin bisu jauh lebih baik bagi seorang perempuan seperti Asma, dari pada bisa berbicara, tapi lisannya digunakan hanya untuk menghina, memaki atau mengunjingi orang lain.
Asma menyeka peluhnya.Tiba-tiba iya terkejut dengan darah yang mengalir dari hidungnya.Darah segar yang menetes perlahan dari kedua lubang hidungnya.sedikit terasa perih.Darah itu terus menetes hingga mengenai kerudungnya.Asma cepat2 menyekanya.Dia bergegas pulang kerumah.Setengah berlari-lari kecil.Ditengah jalan dia bertemu dengan Wati.Sahabat Asma yang juga tetangganya.
Wati heran melihat Asma yang berlari-lari.Dia mengikuti Asma dari belakang sampai kerumahnya.
Didepan pintu ibu sudah menunggu Asma.
“Kamu kenapa (*bahasa isyrat)” Tanya ibu.
“Gak tau,tiba2 keluar darah(*bahasa isyarat)”Jawab Asma.Dia langsung berlari kekamar mandi untuk membersihkan hidungnya.Suara adzan berkumandang.Asma sekalian mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur.
Sementara disebuah warung kopi.Seorang laki2 yang terkenal sangat ditakuti dan kejam, sedang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi panas.Laki-laki yang sedang memikirkan tentang wanita yang baru dilihatnya tadi.”Dia bisu, dan terlahir dengan begitu berat kekurangannya, tapi dia begitu meyakini akan kebahagiaan disisi Tuhan, dia sama sekali tidak marah pada Tuhan, akan kekurangan yang sudah Tuhan berikan,sementara aku…aku sempurna,,tapi aku begitu membenci Tuhan,hanya karena kedua orang tuaku bercerai,Apakah aku tidak sudah keterlaluan.Bagaimana jika yang gadis itu alami , aku alami?? Bagaimana,jika seandainya aku lahir cacat dan tidak seperti saat ini?? Apakah aku terus larut dalam hidup seperti ini??Ah, aku tidak tahu.lalu bagaimana aku harus merubah hidup seperti ini,menjadi seperti hidup gadis bisu itu??>” Andi membatin.
Tidak lama waktu terus berlalu..
Detik berganti menit,menit pun berganti jam, dan jam berganti hari.Sudah beberapa hari ini Andi tidak melihat gadis itu.Yang tidak lain adalah Asma. Andi tidak tahu harus mencari kemana, selain rumah Asma.Dan sore itu dia memutuskan untuk mendatangi rumah Asma.Dan saat dia sudah sampai didepan pintu rumah Asma,dia mengetuk perlahan.Dan terdengar suara orang berjalan membukakan pintu.Setelah pintu dibuka,ibu Asma sangat terkejut melihat Andi berdiri didepannya.
“Ada apa yaa??”
“Mhm,,,Asma ada tidak?” Andi berbalik bertanya.
“Maaf ya mas, tolong jangan ganggu anak saya, dia sedang sakit.Saya mohon,jika anak saya ada salah,tolong dimaafkan,” Ibu Asma sedikit memohon.Andi heran dibuatnya.Niat kedatangannya hanya ingin bertemu baik2 siapa yang mau menyakiti?? Pikirnya.Mungkin karena pakaiannya,sehingga ibu Asma menjadi takut.
“Tidak bu, saya datang kesini,Cuma mau jumpa sama Asma aja kok,gak ada niat macem2,,suer deh..”Jawab Andi meyakini ibu asma.
Ibu Asma menatap Andi dalam-dalam.Tampaknya wanita tua itu sedikit tidak yakin akan jawaban Andi.
“Baiklah,,tunggu sebentar ya..”kata Ibu Asma.
Andi duduk didipan didepan rumah Asma.Tidak lama Asma keluar.Wajahnya sangat pucat sekali.Andi sangat terkejut melihatnya.Wajahnya, hampir menyamai warna kerudungnya.Dia memakai jilbab biru.dan kerudung putih.Asma duduk disamping Andi didampingi oleh ibunya.Andi mengeluarkan sebuah buku.Kemudian dia menulisnya.
*Aku mau belajar sesuatu darimu,boleh tidak??
Andi memberinya kepada Asma.Lalu Asma melihat kepada Andi.Dan menulis juga dibuku itu.
*Apa yang mau kamu pelajari dari aku??
Asma balik bertanya.Andi menulis lagi.
*Tentang agama Islam.Aku sudah lupa banyak tentang agama ,sejak kedua orang tuaku bercerai.
*Kenapa tidak belajar kepada ustadz saja.Ilmu agama saya masih sedikit.
*Karena aku melihat pintu aku untuk kembali itu ada didirimu.aku tahu,mungkin aku tidak pantas untuk meminta ini darimu.Tapi apakah jika ada orang yang meminta kebaikkan dari kita, maka kita menyuruhnya untuk mencarinya dari orang lain.?? Tapi jika kamu tidak mau,yah,,tidak apa.
*Lalu aku harus bagaimana??
*Ajari aku untuk menjadi muslim yang semestinya.Bagaimana??
Asma melihat kepada Ibunya.Ibunya menganggungkan kepala.Dan mengatakan kepada Andi.
“Maaf ya, tapi apa kamu ini gak merasa kesulitan belajar dengan dia.Dia ini tidak bisa berbicara .Jika kamu tidak bisa bahasa isyarat,yah,,seperti ini,kamu harus berkomunikasi secara tulisan dengannya.”
“Tidak masalah bu, lagian saya juga lama lama akan mengerti cara berbicara dengan bahasa isyarat.
“Tapi..kenapa harus dengan Asma ya, kamu minta diajarkan masalah agama?”
“Karena saya merasa ,Cuma Asma yang mengerti tentang saya.Pertama saya lihat dia,saya merasa seperti ada perasaan yang berbeda dihati saya.dan sejak melihat Asma, saya merasa sadar bahwa saya sepertinya sudah menjadi manusia yang melampaui batas.Saya tidak ada niat apa2 kok bu, ini saya lakukan semata2 hanya karena saya ingin tahu, apa yang membuat Asma bisa begitu optimis dalam menerima hidupnya.Sedangkan saya yang sempurna saja,tidak bisa melakukannya.”Jelas andi.
Ibu Asma melihat asma yang terus menunduk,dan mengelus eluskan tangannya dikepala Asma.Ada sedikit kebanggaan dihati wanita tua itu.Dia merebahkan kepalanya kesamping kepala Asma.Dan menangis.Asma yang tidak dapat mendengar apa2,hanya tersenyum senyum saja.
“Sejak usia 14 tahun, asma sudah ditinggalkan oleh ayahnya.Dan sejak itulah ibu tahu bahwa Asma memiliki jiwa yang besar.Tidak sedikitpun dia menangisi kepergiaan ayahnya.Dia justru menguatkan ibu yang terus tidak dapat menahan air mata.Adik2nya saat itu masih kecil-kecil dan ibu tidak tahu harus membiayai kehidupan kami seperti apa.Sejak itu, Asma mulai berjualan .Dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.Dia juga tidak pernah lalaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.Ibu tidak pernah mengajarinya berkerudung, tapi ibu juga tidak tahu dari mana ia tahu, akan kewajiban seorang muslimah menutup auratnya,dia juga belajar membaca dan bahasa Arab disurau bersama guru ngajinya sejak kecil.Dia anak ibu yang sangat ibu banggakan.” Cerita ibu Asma tentang putri kebanggaannya.
Andi semakin tersentuh hatinya,”Di ujung desa seperti ini,masih ada sebongkah permata hidup rupanya.Seorang gadis muslimah yang sangat sholehah.Sementara,sejak ia tinggal dikota besar banyak wanita cantik yang menggairahkan,tetapi tidak dapat menyejukkan hati jika dilihat,Tapi Asma,dia sangat berbeda,Dia sangat luar biasa.Dia bidadari dunia.Meskipun dia terlahir tanpa Lisan,tapi dia sudah berbicara dengan hidayah yang ia ketuk kepintu tang sudah lama tidak terbuka oleh ku”.Andi membatin lagi…
Mulai saat itulah, Andi terus mempelajari tentang apa yang diajari oleh Asma, seperti Sholat dengan sempurna , dan cara bergaul dengan sesama.Andi sempat menanyakan kepada Asma, kenapa Asma selalu tersenyum sekalipun dalam keadaan lelah.Dan Asma mengatakan bahwa…Rasulullah senantiasa mengajari kita untuk memberikan ekspresi wajah terbaik kepada saudara-saudara kita yaitu seperti senyuman, dan juga senyum itu adalah sedekah…

Andi juga mulai meninggalkan kebiasaan buruknya mabuk-mabukan ,berjudi, atau mengganggu orang lain.Dan saat semua itu ia tinggalkan, seperti ada satu kesejukkan didalam batinnya.Hidupnya seakan penuh dengan butiran salju.Apa yang didengar,dilihat olehnya semua mengingatkannya kepada Allah, baik itu sesuatu yang indah, maupun sesuatu yang tidak indah.Allah Maha Pencipta segalanya.Termaksud Allah sudah menciptakan seorang hamba-Nya yang begitu indah bak bidadari Surga yang digambarkan didalam Al-Quran, bermata bening dan terjaga kesuciannya,,tidak pernah disentuh oleh manusia juga tidak jin..begitu firman Allah.

Saat ini, Andi sudah berdiri didepan Asma.Asma mengeluarkan sebuah buku seperti biasa..lalu dia menulis dibuku itu.

*Asma mau bertanya sesuatu,boleh?
Andi mengambil buku itu lalu tersenyum.

*Tentu.Apa itu?
Asma menulis lagi.

*Kak Andi berubah untuk siapa?

*Maksudnya??

*Maksudnya..Kak Andi Berubah karena apa??

*Karena kakak tersentuh dan ingin seperti Asma..

Asma menggelengkan kepalanya..
Andi mengerutkan keningnya.Dia merasa heran,mengapa Asma menggelengkan kepalanya.

ASma menulis lagi.

*Jadi kakak berubah karena Asma??
Gadis cantik itu kembali bertanya.Andi tersenyum.dan mengangguk.

Asma menulis lagi..

*Sekarang Asma tanya,jika semisalnya suatu hari nanti Asma pergi dari hidupkakak,yaitu pergi dan tidak untuk kembali lagi,apa kakak akan kembali seperti dulu lagi???
Andi terdiam.Dia melihat Asma.Gadis itu kembali membuat dia terpukau,tapi kali ini terpukaiu dalam kecemasan dan ketidak relaan,bagaimana kalau itu terjadi.

Andi menulis.

*Kenapa Asma berkata seperti itu..??

*Kak..jika kita ingin sesuatu yang ada pada diri dan hidup kita, landaskanlah semua itu karena Allah semata.Jika kita melandaskannya kepada yang selain Allah maka semua itu akan sinar seiring dengan sirnanya landasan kita itu.Asma mau,,kakak melandas semua perubahan didalam diri kakak karena Allah semata bukan karena kakak kagum pada seseorang atau teropsesi pada sesuatu.

Andi terdiam lagi.Andi hanya dapat mengangguk kan kepalanya.Asma memang luar biasa.pikirnya.
Cuaca siang itu masih sama seperti hari hari yang dulu.Panas, gersang.Dari jauh terlihat seorang wanita berjalan dengan membawa sebuah kerangjang. Peluh membasahi wajahnya yang bercahaya.sekali-kali iya menyeka keringatnya dengan kerudungnya. Tapi saat yang kesekian kalinya ia menyeka peluhnya dengan kerudungnya, ia melihat kerudungnya merah ..Asma sangat terkejut,tampaknya cuaca panas telah membuat wanita itu mimisan lagi.Asma sedikit heran, mengapa akhir-akhir ini dirinya sering sekali mengeluarkan darah segar dari hidung.Perih dan seperti menyesakkan dada.

Asma terus melangkah.Kumandang azan sudah terdengar.Waktunya semua umat muslim yang waktu sholatnya telah tiba untuk bangkit dari duduknya menghadap kepada Sang Rahman.Dari suatu masjid, terdengar kumandang suara azan.Suara muazin itu seperti dikenali oleh semua penduduk desa.Orang-orang yang ada diwarung kopi, Roy sahabat masa maksiatnya Andi.Petani-petani desa.Wanita dan ibu2 yang sedang memasak didapur, semua seakan terpukau pada suara muazin,lantunan setiap lafaz azannya begitu menyentuh.Asma yang tidak bisa mendengar apapun terus berlalu melewati masjid yang sedang mengumandangkan azan nan merdu itu.Dia tidak dapat mendengar apa-apa.Dan dia juga tidak dapat mendengar bahwa yang azan itu tidak lain adalah Andi.Seorang preman yang insaf sejak mengenal sosok dirinya…Akankah semua dapat didengarnya, sekalipun dengan hati.Tapi sayang,,tidak sama sekali.

*Kamu sudah pulang??Ya ampun kamu mimisan lagi.
Kata ibunya sesampainya Asma dirumah.Dengan bahasa isyarat.

Asma hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada ibunya.Dia memberikan ibunya hasil berjualan.Hari ini dagangannya laris semua.Ibu mengambil uang dari Asma,dan memeluknya.Ibu juga menyuruh Asma untuk membersihkan pakaiannya yang terkena darah.


Iqamah sudah terdengar,,,saatnya orang-orang sholat berjama’ah.Andi berdiri disaf paling depan dibelakang imam.Dengan pakaian sholatnya berwarna putih dan celana hitam.Tidak ada lagi rante-rante dan anting ditubuhnya sejak Asma melarangnya untuk mengenakan arsesoris wanita,Asma mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda,bahwa Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, atau wanita yang menyerupai laki-laki.Misalnya laki-laki memakai gelang, anting dan sebagainya yang merupakan perhiasan wanita,dan wanita yang seperti laki-laki.misalnya wanita yang tidak menutup aurat.Memakai jeans , celana ketat, baju oblong keluar rumah atau didepan yang bukan mahramnya.Dan berkelakuan seperti laki-laki.Asma benar-banar sudah menjadi jalan hidayah masuk kedalam kehidupan Andi.Sekalipun Hidayah itu,,tanpa lisan.


Sementara itu dirumahnya Asma keluar dari kamar mandi dengan sangat lesu.Kepalanya terasa berat,Ibu melihat asma berjalan tergopoh-gopoh..

“Kenapa nak, ??”tanya ibunya.Ibu Asma sudah tua,tidak sanggup lagi menahan Asma yag semakin rebah ketubuhnya.Merekapun jatuh didepan pintu kamar mandi.Ibu Asma terus memanggil Asma.Tapi Asma tidak kunjung bangun.Ibunya menangis sejadi-jadinya, sambil terus menggoyang goyangkan tubuh Asma yang sudah mulai mendingin.Wajahnya mulai pucat.Air wudhunya masih terasa dingin ditubuhnya.Ibu menyadari semua perubahan itu pada putri kebanggaannya,Kedua adik Asma duduk didekat ibu mereka.Ibu Asma menyentuhkan jari telunjukkan ke hidung Asma dengan perlahan.Tidak ada lagi helaan nafas,dia meraba dada Asma,tak ada detankan,terakhir ibunya menyadari,bahwa Asma sudah pergi kembali kepada Allah.

“Asmaaaaaaaaaaaaaaa……” jerit ibunya.

Wati sahabat Asma yang kebetulan lewat dekat rumah Asma,mendengar jeritan itu dan mendatangi rumah Asma.Dia sangat terkejut melihat Asma sudah tergeletak pucat dipangkuan ibunya.Airmata Wati jatuh mengalir deras.Sahabat terbaiknya sudah pergi.Pergi untuk menemui kehidupan yang sejati.Adakah yang lebih indah daripada bertemu Tuhan??Mungkin jawaban “Tidak” hanya dimiliki oleh orang2 seperti Asmalah..

Wati berlari keluar rumah Asma.Dia melihat orang-orang yang sudah mulai keluar masjid.

“Tolong….toloooongg..”jeritnya.
Orang-orang melihat kearahnya.Lalu salah satu dari mereka bertanya kepadanya mengapa dia berlari-lari.Wati menceritakan semuanya kepada orang-orang tentang Asma.Andi yang juga mendengar hal itu, langsung berlari menuju rumah Asma.Sesampainya disepan pintu rumah Asma.Andi sudah meneteskan Airmata.Seseorang sedang terbaring rapi diatas dipan,kepalanya dibaluti ketudung putih.Tubuhnya ditutupi kain panjang.dan wajahnya di tutupi selendang putih transparan.Andi mendekatinya dengan berjalan perlahan.Lalu membuka selendang itu.Ibu Asma masih menangis..kedua adiknya juga menangis.Andi masih terdiam tanpa kata.Dia melihat ibu Asma dan adik-adiknya. Kemudian dia terduduk menyentakkan tubuhnya didipan.Lalu menengadahkan kepalanya kelangit.dari jauh dia melihat orang-orang berjalan seakan begitu pelan.Waktu seakan tidak bergerak lagi.Detik seperti terhenti.Dari jauh dia melihat Asma…dengan gamis putihnya,dan kerudung putihnya…tersenyum…Andi bangkit,dan membalas senyum itu…

“Kamu mau kemana???..”tanyanya pada Asma…tapi kali ini dia tidak lagi hanya tersenyum,tapi dia berbicara.

“Asma mau pulang kakak, Allah uda manggil Asma.Nanti kita bertemu disana lagi ya kakak.Asma akan tunggu kakak.Asma pergi ya kakak.Assalamu’alaikum”…

“Wa’alaikum salam”.Andi tersenyum.


TAMAT.